Sistem Reproduksi Cacing Tanah

Cacing tanah memiliki alat kelamin jantan dan betina pada satu tubuh (hermaphrodite). Tetapi hewan ini tidak dapat membuahi dirinya sendiri. Dari perkawinan masing-masing cacing tanah akan menghasilkan satu kokon yang berisi telur.

Proses perkawinan cacing tanah :

1. Kedua cacing saling melekat di bagian anteriornya dengan posisi saling

berlawanan. Keadaan saling melekat ini diperkuat oleh seta.

 DSC02587

Skema : Bagian anterior (depan)

       Ket gambar :

  1. Lubang alat kelamin jantan
  2. Lubang penerima sperma dan kantung penerima sperma

2. Saat cacing tanah saling mendekatkan diri pada daerah pembukaan spermateka, cacing berlekatan klitelum masing-masing cacing akan mengeluarkan lendir. Lendir berfungsi melindungi spermatozoa yang keluar dari lubang alat kelamin jantan masing-masing.

Kedua cacing ini berperan sebagai hewan jantan (keduanya mengeluarkan spermatozoa).

3. Spermatozoa yang keluar kemudian bergerak ke bagian posterior ke belakang, dan masuk ke dalam lubang kantong penerima sperma dari cacing pasangannya (vesicle seminalis)

 DSC02588

Skema : Bagian anterior (depan)

                  * Arah spermatozoa dari I ke II

4. Cacing I memberikan spermatozoa kepada cacing II

5. Cacing II memberikan spermatozoa kepada cacing I

6. Perkawinan berlangsung selama beberapa jam, dan setelah masing-masing menerima spermatozoa kedua cacing saling berpisah.

7. Pada saat akan melepaskan diri, klitelum membentuk selubung kokon, yang bergerak kea rah mulut, dan bertemu dengan lubang saluran telur.

8. Telur-telur kemudian keluar dari lubang tadi dan masuk ke dalam selubung kokon, kemudian selubung kokon bergerak ke arah mulut.

9. Saat melewati lubang penerima sperma, masuklah spermatozoa ke dalam selubung kokon dan terjadilah pembuahan telur oleh spermatozoa.

10. Selubung kokon terus bergerak ke arah mulut hingga terlepas dari cacing tanah dan membentuk kokon.

Pada saat pemisahan spermatozoa, sebuah celah semen terbentang dari gonofor jantan sampai klitelum dan terlihat seperti benang. Celah semen merupakan bagian dari dinding luar tubuh yang melekuk ke dalam akibat dari terbentuknya pori-pori oleh kontraksi otot yang terbentang pada lapisan otot longitudinal.

Kontraksi otot longitudinal menimbulkan kontraksi memendek dan relaksasi memanjang. Adanya kontraksi longitudinal membuat cairan sperma dari gonofor jantan menuju daerah klitelum.

 DSC02591

 Skema : Kopulasi cacing tanah

Kokon mengandung albumin yang diproduksi oleh kelenjar klitelum, ovum, dan spermatozoa yang disalurkan ke dalamnya ketika melewati pembukaan spermateka. Kokon terus dibentuk sampai cairan sperma habis. Kokon berbentuk lonjong dan besarnya ⅓ kali besar kepala batang korek api. Kokon diletakkan di tempat lembab dan akan menetap dalam waktu 14 s/d 21 hari. Setiap kokon akan menghasilkan cacing sebanyak 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor.

Diperkirakan 100 cacing dewasa dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu satu tahun. Cacing mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan. Setiap cacing dewasa dapat menghasilkan satu kokon setiap 7-10 hari. Umur cacing tanah 2-6 tahun.